Pertumbuhan di Meja Makan

oleh
oleh

Pertemuan presiden Joko Widodo di Istana beberapa waktu lalu dengan ketiga calon presiden 2024 – 2029, menjadi pembicaraan luas di kalangan rakyat pada umumnya.

Pembicaraan yang terjadi di kafe, di Angkringan atau pun di ruang-ruang diskusi mahasiswa dan kelompok aktivis – tentang interpretasi politik pertemuan presiden dengan Anies Baswedan, Ganjar Pronowo dan Prabowo Subianto.

Pertemuan yang diakhiri dengan makan siang itu, di banyak kalangan dinilai sebagai sesuatu yang positif. Presiden mempersepsikan bahwa pemilu tahun depan adalah pemilu yang sejuk. Tidak ada fitnah dan hoax terjadi antar calon presiden. Karena pemilu itu sejatinya kompetisi antar anak bangsa sendiri, jangan sampai terjadi polarisasi sosial seperti pemilu terdahulu. Pemilu 2024 itu siapa pun yang terpilih kita semua harus riang gembira.

Pesan presiden kepada ketiga candidat presiden itu, tentu saja juga diiyakan oleh ketiga calon presiden. Yang semuanya menerima ajakan presiden Joko Widodo untuk menciptakan pemilu yang sejuk. Konstelasi politik yang sehat, yang memberikan suasana aman dan nyaman.

Anies Baswedan mengingatkan untuk terjadinya pemilu yang tidak ada intervensi dari yang sedang berkuasa. Dan juga tidak ada pengerahan aparat untuk memihak calon dari salah satu pasangan. Diimbau juga TNI-POLRI, dan pejabat sementara (pjs) gubernur, bupati dan walikota untuk netral. Netralitas pemilu tahun depan benar-benar diharapkan terjadi di dalam masyarakat.

Tetapi apakah semua yang ideal itu bisa terjadi. Dan apakah sudah terlihat dari sekarang, pemilu akan berjalan baik sesuai aturan yang berlaku. Apakah politik seperti itu, seperti yang ideal bisa terwujud. Seperti yang diharapkan berlaku dalam masyarakat sesuai aturan.

Pertemuan di meja makan di Istana negara antara Jokowi dan tiga calon presiden justru tumbuh dalam logika politik interpretatif. Apa yang terlihat dalam pertemuan yang akrab itu, justru mengandung drama.

Adapun dalam dipertemuan dengan pimpinan partai Golkar, Jokowi mengatakan bahwa akhir-akhir ini politik kita seperti drama korea (drakor), seperti sinetron. Tidak diisi dengan adu gagasan atau tumbuh dalam perdebatan. Tumbuh jauh dari pikiran halusinatif.

Pertemuan di Istana yang menyenangkan dan tampak sejuk itu dinilai oleh kaum oposisi sebagai upaya pementasan drama yang tidak terang.

Dalam pertemuan itu Jokowi nampak dominan. Dari ketiga calon presiden itu terlihat berupaya mengambil hati baik dari Jokowi. Semua terlihat tidak ada yang ingin berbeda dengan program Presiden Jokowi.

Anies Baswedan yang mengusung ide perubahan tidak terlihat berdebat dengan presiden. Ide perubahan itu seperti apa? Perubahan itu apakah anti tesa dari seluruh program Jokowi seluruhnya? Atau perubahan itu jalur keter putusan dengan semua program Jokowi yang sudah berjalan sekarang? Apakah ide perubahan itu artinya menganulir semua proyek yang sedang dijalankan presiden Jokowi sekarang. Pertemuan di meja makan itu tidak memperlihatkan hal itu.

Selain itu dengan kedatangan tiga kandidat ke istana merupakan bentuk keakraban, selain juga kepatuhan. Kepatuhan dengan penguasa yang ada.

Di mata seorang oposisi, semestinya Anies Baswedan tidak harus datang memenuhi undangan presiden yang berakhir di makan siang bersama.

Kalau Prabowo dan Ganjar masih ingin meneruskan program Jokowi dan tidak masalah dinilai berada dalam bayang-bayang pengaruh Jokowi, maka seharusnya Anies Baswedan tidak datang. Agar publik luas tahu bahwa ketidak-hadiran Anies merupakan sikap politik yang berbeda. Ketidak-hadiran Anies Baswedan merupakan sikap berbeda dengan Prabowo dan Ganjar dalam memaknai ide perubahan.

Di dalam politik modern, gagasan Jokowi mengundang ketiga calon presiden itu dinilai sebagai pementasan mini teater dan Jokowi sebagai sutradara. Ibarat pementasan teater, pertemuan di Istana negara itu, Jokowi sedang membuat pertunjukan drama dan dirinya sebagai sutradaranya.

Seorang sosiolog Amerika yang berpengaruh pada abad 20, dengan teorinya dramaturgis teori, mengatakan bahwa ada banyak kesamaan antara pementasan teater dengan berbagai jenis peran yang kita mainkan dalam interaksi dan “tindakan” sehari-hari. Lebih jauh Erving Goffman (1922-1982) melanjutkan agak jauh analogi antara panggung teater dan interaksi sosial ini. Di semua interaksi sosial terdapat semacam bagian depan (front region) yang ada persamaannya dengan pertunjukan teater. Aktor, baik di pentas maupun dalam kehidupan sosial sehari-hari, sama-sama menarik perhatian karena penampilan kostum yang dipakai dan peralatan yang digunakan. Selanjutnya, di kedua jenis pertunjukan Itu ada bagian belakangnya (back region) yakni tempat yang memungkinkan aktor mundur guna menyiapkan diri untuk pertunjukan berikutnya.

Di belakang layar atau di depan layar (menurut istilah teater) para aktor dapat berganti peran dan memerankan diri mereka sendiri. (Teori Sosiologi Modern – George Ritzer hal 90)

Dalam konteks teori dramaturgis, Jokowi sedang menjadi sutradara dari ketiga calon presiden yang akan berebut kemenangan itu.

Pertumbuhan politik di meja makan yang telah dipentaskan di Istana negara beberapa hari lalu tumbuh juga dalam interpretasi politik dikalangan masyarakat luas. Pertumbuhan itu akan mengarah ke pesimis atau optimis tergantung pada pengelolaan aparat keamanan dan seluruh rakyat Indonesia, dalam menjalani pemilihan presiden tahun depan.

Penulis : Isti Nugroho

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.